Sunday, November 04, 2018

PARADIGMA PEMBELAJARAN HARUS BERUBAH


Tidak ada yang dikerjakan. Segala sesuatu diatas bumi ini tetap dilakukan atau telah dilakukan. Lukisan paling besar belum terlukis, drama yang paling besar belum di tulis, puisi paling besar belum disyairkan, Diseluruh dunia tidak ada kereta api yang sempurna, juga tidak ada pemerintahan yang baik, tidak ada hukum yang masuk akal. Fisika, matematika, dan terutama ilmu yang paling maju dan paling eksak sedang direvisi secara fundamental. Kimia baru saja menjadi sebuah sains; psikologi, ekonomi, dan sosiologi sedang menantikan seorang Darwin yang karyanya pada gilirannya menantikan seorang einstein. Jika saja anak-anak yang berhura-hura bisa menceritakan hal ini, mereka mungkin tidak semuanya menjadi ahli dalam bidang sepak bola, partai-partai, dan meraih peringkat-peringkat. Akan tetapi, mereka tidak diberi tahu tentang hal ini; mereka diberi tahu untuk mempelajari apa yang sudah diketahui. Ini sama sekali tidak ada apa-apanya .

ini kutipan tulisan Lincoln Steffens yang menulis pada tahun 1931 tetapi saya kira sampai saat ini tetap bisa memberikan  inspirasi dan memang sama benarnya. Persoalannya adalah Pendidik atau kita  mau mengajarkan apa yang sudah diketahui sebelumnya atau mengajarkan kreatifitas; bagaimana menemukan sesuatu; menemukan, merealisasikan ide-ide baru; bagaimana memecahkan masalah-masalah lingkungan sekitar, bagaimana memunculkan inovasi; bagaimana menciptakan peluang dan memanfaatkan peluang.
Ilmu pengetahuan adalah sistem berpikir tentang dunia empiris. Dengan demikian pendidikan keilmuan adalah pendidikan berpikir rasional tentang dunia empiris. Dari sisi taksonomi berpikir, maka pendidikan keilmuan berarti mendidik berpikir pada tingkat kognitif tertentu. Dengan taksonomi Bloom misalnya, didikan berpikir keilmuan terletak pada tingkat analisa-sintesa-evaluasi-kreasi, tidak pada tingkat dibawahnya.
Fakta pembelajaran saat ini menunjukkan rendahnya tingkat kecakapan berpikir tingkat analisa-sintesa-evaluasi-kreasi anak didik . Para pakar pendidikan mengatakan bahwa proses pembelajaran yang dominan di sekolah-sekolah masih membelajarkan tingkat rendah yakni mengetahui, memahami, dan menggunakan belum mampu menumbuhkan kebiasaan berpikir evaluasi-kreatif yakni suatu yang paling esensi dari dimensi belajar. Sebagian besar pendidik belum merancang pembelajaran yang mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif.
Sebenarnya para pendidik telah menyadari bahwa pembelajaran berpikir agar anak menjadi cerdas, kritis, dan kreatif serta mampu memecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupan mereka sehari-hari adalah penting. Kesadaran ini juga telah mendasari pengembangan kurikulum kita lebih lebih mengedepankan pembelajaran yang konstekstual dengan lingkungan kehidupan sehari-hari anak. Akan tetapi sebagian besar pendidik kita belum berbuat, belum merancang secara serius pembelajaran yang didasarkan pada premis proses belajar (Drost, 1998, Mangunwijaya, 1998, Kamdi, 2002). Kita masih berkutat dengan cara-cara mengajar yang lama, yang cenderung mematikan kreativitas anak.
Proses “pembelajaran” saat ini masih diimplementasikan sebagai proses menjadikan anak tidak bisa, menjadi bisa. Kegiatan belajar berupa kegiatan menambah pengetahuan, kegiatan menghadiri, mendengar dan mencatat penjelasan guru, serta menjawab secara tertulis soal-soal yang diberikan saat berlangsungnya ujian. Pembelajaran adalah proses menyampaikan, memberikan, memindahkan/mentransfer ilmu pengetahuan dari guru kepada siswa.
Dalam tataran ini siswa yang sedang belajar bersifat pasif , menerima apa saja yang diberikan guru, tanpa diberikan kesempatan untuk membangun sendiri pengetahuan yang dibutuhkan dan diminatinya. Siswa sebagai manusia ciptaan Tuhan yang paling sempurna di dunia karena diberi otak, dibelenggu oleh guru. Siswa yang jelas-jelas dikaruniai otak seharusnya diberdayagunakan, difasilitasi, dimotivasi, dan diberi kesempatan, untuk berpikir, bernalar, berkolaborasi, untuk mengkonstruksi pengetahuan sesuai dengan minat dan kebutuhannya serta diberi kebebasan untuk belajar.
Sudah seharusnya meruntuhkan pemahaman yang keliru bahkan telah menjadi “mitos” bahwa belajar adalah proses menerima, mengingat, mereproduksi kembali pengetahuan yang selama ini diyakini banyak tenaga kependidikan. Jalaluddin Rakhmat (2005) dalam buku Belajar Cerdas, menyatakan bahwa belajar itu harus berbasis otak .
Dengan kata lain revolusi belajar dimulai dari otak. Otak adalah organ paling vital manusia yang selama ini kurang dipedulikan oleh dosen dalam pembelajaran. Pakar komunikasi mengungkapkan kalau kita ingin cerdas maka kita harus terlebih dahulu menumbangkan mitos-mitos tentang kecerdasan (Ekamawati,W, Jawa Pos, 11 September 2005).
Menurut pandangan Slavin (1997)) dalam proses pembelajaran pendidik tidak dapat hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun pengetahuannnya sendiri dalam dengan mendayagunakan otaknya untuk berpikir. Guru dapat membantu proses ini, dengan cara-cara membelajarkan, mendesain informasi menjadi lebih bermakna dan lebih relevan bagi kebutuhan siswa. Caranya antara lain dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide, dan dengan mengajak mereka agar menyadari dan secara sadar menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Menurut Nur (1999), pendidik sebaiknya hanya memberi “tangga” yang dapat membantu siswa mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi, namun harus diupayakan agar siswa sendiri yang memanjat tangga tersebut.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa (Brooks, 1990, Slavin, 1997), antara lain,
(1) siswa perlu didorong secara individual menemukan dan mengubah informasi yang kompleks menjadi lebih sederhana, bermakna, agar menjadi miliknya sendiri
(2) siswa perlu selalu membandingkan informasi yang satu dengan informasi yang lain, jika tidak cocok, ia harus berupaya untuk mengubahnya agar sesuai dengan skematanya.
Dengan demikian maka belajar harus bersifat konstruktif, artinya dapat digambarkan sebagai proses berpikir pada saat terjadinya penemuan ilmiah, pemecahan masalah, menciptakan sesuatu. Kegiatan tersebut bisa dalam bentuk eksplorasi, eksperimentasi, kreativitas, ketekunan, kesabaran, rasa ingin tahu, dan kerja sama atau kolaboratif.
Perubahan paradigma pembelajaran di atas mempunyai implikasi yang sangat besar, karena akan menumbuhkan kebiasaan mental untuk dapat berpikir secara produktif. Indikasi-indikasi berpikir produktif ( Marzano dalam Kamdi, 2002) demikian antara lain,
(1) self-regulated thinking and learning, yakni kompetensi mengetahui apa yang sedang dipikirkannya, tindakan yang terencana, mengetahui sumber-sumber yang penting, sensitive terhadap umpan balik, dan evaluatif terhadap keefektifan tindakan; (2) critical thinking and learning, yang dicirikan oleh tindakan yang ceermat, jelas, terbuka, bisa mengendalikan diri, sensitive terhadap tingkat pengetahuan,; dan
(3) creative thinking and learning yang ditandai dengan semangat tinggi, berusaha sebatas kemampuan, percaya diri, teguh, dan menciptakan hal-hal atau cara baru.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mewujudkan ketiga indikator di atas adalah dengan mengintegrasikan ke dalam tugas-tugas di kelas dan menggunakan contoh-contoh khusus dari kehidupan orang yang memiliki kompetensi unggul.


No comments:

Post a Comment